in

KEMENKUMHAM RI GELAR FGD PERUBAHAN UNDANG – UNDANG JAMINAN FIDUSIA

Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia mengadakan Focus Grup Discussion (FGD) terkait perubahan Undang – Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Diadakannya FGD tersebut bertujuan untuk menerima masukan hal-hal yang terkait dengan perubahan undang-undang Fidusia tersebut. Diketahui sejak diterbitkannya UU diatas sampai dengan saat ini belum mengalami perubahan.

FGD tersebut berlangsung di Hotel  Savero jalan Margonda Depok sejak tanggal 11 s/d 13 September 2019. Adapun peserta FGD terdiri dari Perwakilan dari Kementerian Ekonomi Kreatif, Akademisi, Ikatan Notaris Indonesia, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), dan Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN).

Dengan Pokok materi Pembahasan Focus Group Discussion yaitu penyusunan “Draf Rancangan Perubahan undang – Undang Jaminan Fidusia”. Kemenkumham menghadirkan narasumber yang dapat membahas perubahan undang-undang tersebut secara detail antara lain Kejaksaan Agung RI, Mahkamah Agung RI, Direktur Jenderal Kekayaan Negara, Kepolisian Daerah Metro Jaya, Departemen Hukum Otoritas Jasa Keuangan, Badan Siber dan Sandi Negara, Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, S.H., FCBArb selaku pemateri  menyatakan bahwa, selama ini undang-undang jaminan Fidusia memakai akta autentik.

“Saya merubah itu, menjadi akta di bawah tangan,” tegas Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, S.H., FCBArb di Hotel Savero, di kawasan Depok, Rabu (11/9/2019). “Pasal 30 Undang-Undang Jaminan Fidusia , bahwa pemberi fidusia wajib menyerahakn benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia, maka harus dapat dipidana, serta ditambahkan pasal pidana” tambahnya.

Written by jesaya siahaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pembukaan Pelatihan Legal Draft T.A. 2019

HAKIM KABULKAN PERMOHONAN PENCABUTAN PRAPERADILAN KIVLAN ZEIN